DSBK XVI 2025 (11): Minum Air Mahakam, Kamu Pasti Akan Kembali

Jembatan Mahakam, salah satu ikon kota Samarinda. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Selesai urusan bebersih karma dan energi negatif di Kutai Kartanegara, saya beneran merasa lemas. Energi tipis banget. Jadi begitu jalan ke arah kapal, nggak banyak foto dan juga wes malas mengambil foto.

Padahal sekitaran museum ke pelabuhan cukup banyak view yang bisa dibidik. Biasanya saya cukup hectic dan motret banyak di tempat baru. Kadang rumput beda bentuk aja saya potret 😁

Tentu masih ada foto-foto yang memang harus saya ambil. Setelah itu saya wes langsung ke kapal. Kami akan kembali ke Samarinda dengan kapal lebih kurang 2 jam perjalanan.

Titik Nol Kutai Kartanegara. Di tengah-tengah Museum Mulawarman dan Pelabuhan. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Lantai bawah kapal sudah penuh. Orang-orang juga sudah banyak yang makan, ngobrol, sebagian mulai siap-siap menyanyi dan berjoget.

Saya, Mbak Erna dan temannya segera mengambil nasi box dan ke lantai atas. Lebih panas di sini, tapi lebih leluasa. Masih banyak kursi kosong.

Bertiga kami duduk. Saya wes minum banyak, terus langsung makan. Sementara Mbak Erna dan temannya tidak langsung makan. Katanya masih kenyang beli jajanan dan makan dekat areal masjid. Saya makan, sambil berdoa memulihkan energi saya.

Sisi lain Titik Nol Kutai Kartanegara. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Alhamdulillah sudah lumayan pulih, meskipun belum 100 persen. Berbincang tentang banyak hal dengan 2 teman duduk terasa cepat membuang waktu.

Kehebohan Teman-teman lain peserta DSBK XVI yang menyanyi dan berjoget, untunglah nggak menggoda Mbak Erna dan temannya untuk ikut. Jadi saya ada temannya terus.

Semilir angin, suara air, udara panas tapi sejuk, perut kenyang dan kurang energi adalah paduan sempurna untuk tidur. Cuman karena ada banyak hal seru yang kami bicarakan, saya pun nggak jadi tidur.

Kapal wisata yang kami tumpangi dari Kutai Kartanegara ke Samarinda. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Mahakam membentang luas dengan airnya yang cokelat pekat. Ada banyak kapal angkut batu bara lalu lalang. Ada banyak pula kapal penumpang. Jembatan Mahakam yang membentang gagah di tengah-tengah sungai Mahakam, sungguh cantik kilau nya di waktu senja. Kerlap kerlip lampu di malam hari menambah pesona cantiknya.

Rumor mitos yang masih terdengar hingga sekarang, kalau sudah pernah minum air Mahakam (pernah datang) pasti akan datang lagi. Ya, ternyata saya pun begitu. Sudah pernah datang, ternyata ya datang lagi. Justru karena mitos itulah, saya tenang-tenang aja kalau satu sesi kedatangan ini belum selesai semua urusan, ya nanti datang lagi.

Begitu sampai pelabuhan di Samarinda, rombongan terpisah 2 bus. 1 bus pergi ke mall untuk beli belanja oleh-oleh. 1 bus lagi langsung balik hotel.

Pulau Kumala yang berada di tengah-tengah Sungai Mahakam. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Mbak Erna dan temannya naik maxim online karena buru-buru mau langsung ke hotel. Mereka ada perlu dengan kawan lainnya. Mereka juga mengajak saya serta, tapi saya memilih ikut bus yang ke hotel.

Sampai kamar hotel, terasa betul capeknya saya. Jadi langsung mandi, sholat ashar, dan bleees… tidur pules saya. Tahu-tahu sudah maghrib saja. Usai sholat, tidur lagi saya.

Dekat-dekat jam 8 malam baru makan. Sementara itu ada rombongan yang ikut pekan budaya. Saya yo nggak ikut datang. Lelah bener. Belum pulih energi saya. Lha ndilalah hujan deras malam itu. Tapi Mas Amien cerita keesokan harinya kalau di tempat pekan budaya terang benderang. Pasti mereka pakai pawang hujan. Saya cuma mikir dalam hati, oh pawang hujan juga dikenal di sini. Nggak cuma di Jawa aja.

Dermaga Mahakam Ilir yang berada di Samarinda. Di sinilah kapal kami dari Kukar berlabuh. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Malam itu, sebenarnya saya sudah janjian jumpa Uda dan beberapa teman. Cuman karena hujan, bubar jalan. Saya pun males kalau hujan keluar. Selain ya, energi saya belum beneran pulih. Kalau capek fisik, tidur sebentar sudah fresh. Tapi yang ditarik energi, pulihnya rada perlu waktu.

Untunglah beli oleh-oleh sekarang yo segampang pesan online. Pesan, transfer, ambil pake gojek untuk diantar ke tempat kita menginap pun bisa; bahkan bisa pesan untuk langsung dikirimkan ke alamat kita di Jogja. Jer basuki mawa kanca. Dengan bantuan teman, urusan begini langsung beres.

Setelah beres urusan itu, saya sempat ngobrol dengan beberapa peserta yang hilir mudik di lobi nunggu jemputan mo belanja malam itu. Sebagian ada yang sudah langsung pulang. Ada info juga rombongan yang mobilnya nabrak mobil orang. Syukurlah semua orang selamat, meskipun mobil nggak selamat. Terpaksa mereka balik lagi ke hotel dan baru keesokan harinya bisa pulang.

Ini kucing Kutai Kartanegara di sekitaran makam Raja-raja Kukar yang memgekori saya dari ujung ke ujung, tapi menghilang pergi di sekitaran Masjid Kukar. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Saya sempat rerasan dengan Mas Amien kalau pergi pas maghrib memang nggak baik. Masa yang berat, karena bangsa lelembut sangat powerfull saat itu. Kekuatannya bisa mengganggu manusia yang kondisi energi drop, apalagi lelah seperti saat itu; seharian di lapangan mider jalan. Belum mereka yang aktif nyanyi joget. Gembira iyes, rasa capek mungkin tidak, tapi energi berkurang itu nggak bisa diakali.

Kembali ke kamar, sebentar saja saya wes tidur. Pokoknya kalau urusan tidur, alhamdulillah saya paling gampang. Bangunnya juga mudah. Mungkin 2 jam lah saya tidur. Pas buka WA ada pengumuman untuk urus uang saku.

Turun ke meja panitia, pake ditanyain aura ballroom bagaimana sama salah satu panitia. Saya bilang baik-baik saja. Kalau aura panitia, sambil tertawa saya jawab semua lelah. Duh, saya kok lupa tenan nggak foto sama mereka semua. Haizh, saya masih mbliyat-mbliyut energi belum 100 persen.

Bersambung
Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *