DSBK XVI 2025 (6): Menjadi Dosen, Ternyata Begitu Rupa

Sesaat sebelum acara penutupan DSBK XVI 2025. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Acara penutupan seminar berlangsung meriah. Masih banyak yang berjoget dan menyanyi sampai jauh malam. Karena sudah janjian sama Uda, saya langsung undur diri dari ballroom.

Saya dan Uda bercerita banyak tentang banyak hal. Kemudian menyadari bahwa dunia kampus memang penuh dengan beragam kondisi. Tuntutan tridharma PT yang aduhai, orang-orang toxic, tuntutan dan beban administratif, gaji kecil dengan banyak biaya (seminar, publikasi, riset, pengabdian, dll pendukung) yang harus ditanggung oleh dosen ybs (dan seringnya tanpa diganti oleh pihak kampus).

Bagi saya pribadi, mungkin jadi dosen atau enggak ya nggak terlalu ngaruh. Itu kenapa saya yo nggak beribetan dengan gaji dosen yang superkecil. Alhamdulillah saya wes survive sebagai penulis. Menjadi dosen karena saya patuh amanat ibu saya yang ingin anaknya ada yang guru besar; dan biar ilmu saya gegara sekolah tinggi itu lebih banyak tersampaikan kembali pada lebih banyak orang. Caranya ya mengajar terstruktur, menjadi dosen.

Kalau beneran murni sebagai dosen dengan gaji seuprit gitu, jelas nggak mungkin hidup seperti kebiasaan saya yang doyan jalan dan senang dolan. Tahu sendiri berapa gaji pokok dosen baru, di Jogja pula yang kondang UMR paling rendah di Indonesia.

Acara penutupan seminar DSBK XVI 2025 di ballroom Hotel Hariss. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Jadi, saya menganggap operasional saya sebagai dosen ya wes ikut serta operasional harian kerja saya sebagai penulis. Dengan begitu, saya nggak merasa “sakit hati” karena mengeluarkan ini itu, membayar acara ini itu –membawa nama kampus, tapi nggak sepeserpun diganti oleh kampus.

Feel free. Dan itu bikin hati saya lebih ringan mengeluarkan charge investasi beragam ilmu yang berkaitan dengan riset pengabdian bidang penulisan kreatif, seperti ikut acara DSBK XVI 2025 ini.

Uda dengan waktu yang lebih lama sebagai dosen, ya karena memang niat awalnya menjadi dosen; mengatakan sempat bengong dengan gaji yang kecil. Sekolah begitu mahal, capek, waktu, energi, tahu-tahu jadi dosen dengan gaji yang nggak layak dengan ukuran biaya sekolah. Untung lah kemudian banyak gaweyan lain yang mendukung finansial, yang terpenting mencari rezeki yang halal.

Ya, karena kalau mengandalkan gaji dosen, beneran nggak cukup. Hidup perlu rumah, kendaraan, pangan sandang sehari-hari, operasional kerja, belum kalau ada istri anak dll. Biaya menjadi sangat tinggi. Intinya, sekedar menerima uang dari menjadi dosen; rerata tidak cukup untuk hidup. Harus cari sumber lain.

Di situ saya menyadari, betapa beruntungnya saya masuk dunia pendidikan tidak bermotif uang atau cari kerja. Kalau iya, pasti bawaannya kesal melulu. Pemerintah semestinya sadar kalau ingin bangsa ini maju, para pendidik (guru, ustadz, ustadzah, mentor, dosen, coach, trainer, dll sebutan) itu harus digaji dengan layak.

Saya dan Uda, saat sarapan di Hotel Hariss. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.

Bukannya malah disuruh terima ikhlas dengan alasan itu pekerjaan pengabdian. Sementara gaweyan yang nggak ada hubungan dengan kemajuan generasi penerus malah punya standar gaji yang tinggi. Ironis di tengah slogan mencapai generasi emas.

Acara DSBK XVI 2025 ini versi saya juga sangat luar biasa. Memberikan usulan kepada berbagai pihak, terutama Pemerintah untuk lebih peduli pada sastra. Pembangunan dunia sastra memang nggak serta merta memberikan dampak secara langsung, tapi tanpa sastra jelas kita akan semakin jadi bangsa yang kehilangan budi.

Sastra adalah penyeimbang pembangunan fisik yang berlangsung massif. Sebagai bentuk pembangunan jiwa, tentu tidak fair kalau pemerintah cenderung “mengabaikan”. Saya pribadi berharap, semua usulan saran dll maklumat DSBK XVI 2025 ini bisa ditindaklanjuti Pemerintah dan pihak terkait dengan baik.

Bersambung

Ari Kinoysan Wulandari

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *