
Tas untuk wadah daging kurban dari keluarga kami. Dokumentasi Ari Kinoysan Wulandari.
Alhamdulillah, tahun ini saya bersaudara diberi rezeki untuk berkurban sapi. Pemotongan sapi akan dilakukan besok pagi, di tanah kelahiran kami, Tulungagung. Kegiatan dipusatkan di rumah ipar saya, di kecamatan paling timur Tulungagung; dengan pertimbangan halaman yang luas dan banyak kerabat, orang atau tenaga yang bisa dikerahkan agar urusan berkurban kami lebih lancar, lebih cepat selesai. Dengan teriring doa agar kami semua diberi sehat, iman, takwa, mudah-lancar-banyak-berkah rezeki, sejahtera, bahagia, panjang umur, dan tahun-tahun berikutnya selalu bisa berkurban sapi. Amin YRA.
Ya, kita sudah masuk lebaran haji hari ini. Versi saya, yang menyenangkan ada libur panjang empat hari. Saya tetap di Jogja, karena banyak gaweyan yang sedang oyak-oyakan. Libur yang berasa nggak prei. Seperti waktu-waktu sebelumnya; setiap tahunnya, umat Muslim di seluruh dunia merayakan Idul Adha, atau yang lebih dikenal di Indonesia sebagai Lebaran Kurban atau Lebaran Haji.
Lebaran ini bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan momentum refleksi spiritual yang sangat dalam. Di balik gemuruh takbir dan aroma segar daging kurban, ada pesan besar yang sering terlupakan: memotong keserakahan dalam diri kita.
Lebaran Haji bukan sekedar urusan potong memotong hewan kurban. Berkurban bukan hanya tentang menyembelih binatang ternak, seperti kambing, domba, sapi, kerbau, atau unta. Nabi Ibrahim AS mengajarkan kita arti pengorbanan sejati; yaitu merelakan sesuatu yang paling dicintai demi memenuhi perintah Allah SWT.
Dalam konteks kekinian, itu bisa berarti melepaskan ego, mengalahkan nafsu, dan menahan kerakusan. Daging kurban memang dibagikan, tapi tujuan utamanya adalah memperkuat nilai-nilai keikhlasan, kerelaan, dan kepedulian kita yang berkurban.
Di tengah budaya konsumtif dan kompetisi tiada henti, keserakahan bisa tumbuh diam-diam. Kita ingin lebih dalam banyak hal: lebih kaya, lebih terkenal, lebih diakui; bahkan jika itu berarti menginjak-injak hak atau semena-mena mengkambinghitamkan orang lain. Idul Adha datang sebagai pengingat bahwa tidak semua harus dimiliki, dan tidak semua yang bisa dimiliki harus dipertahankan.
Mari kita belajar dari seekor binatang kurban.
Mungkin terdengar sederhana, tetapi dari seekor kambing atau sapi yang dikurbankan, kita bisa belajar arti memberi. Hewan itu mungkin tidak punya pilihan, tapi kita punya. Kita bisa memilih: hidup untuk diri sendiri, atau hidup untuk memberi manfaat lebih luas kepada sesama.
Mengurbankan sebagian harta untuk sesama adalah latihan melepaskan keserakahan. Ini adalah bentuk jihad melawan diri sendiri; melawan keinginan untuk terus menimbun harta dan enggan berbagi.
Lebaran Kurban juga bisa kita perluas maknanya. Di era krisis ekonomi, kemiskinan, dan ketimpangan sosial, “berkurban” bisa berarti menyumbang waktu untuk mengajar anak jalanan, menyisihkan gaji untuk keluarga atau tetangga yang membutuhkan, atau sekadar tidak mengambil hak orang lain, dll tindakan kebaikan untuk sesama dan semesta.
Memberi makan kucing jalanan pun kebaikan. Menyirami tanaman secara rutin pun jadi kebaikan. Menyingkirkan batu di jalan juga kebaikan. Ada begitu banyak ruang dan kesempatan untuk berbuat baik. Pastikan sampeyan ada di antara kebaikan-kebaikan itu. Bahkan jika tanpa publikasi atau diketahui pihak lain.
Berkurban adalah simbol pelepasan diri dari keserakahan pribadi. Simbol itu hanya bermakna jika diiringi perubahan perilaku. Semoga dengan berkurban kita menjadi lebih mudah berbagi, lebih mudah empati, lebih mudah peduli terhadap sesama dan semesta, sehingga keberadaan kita menjadi berkah di lingkungan sekitar.
Mari kita jadikan Idul Adha tahun ini lebih dari sekadar rutinitas tahunan. Mari kita potong bukan hanya hewan kurban, tetapi juga rasa rakus, iri, tamak, dan ego yang berlebihan. Pada akhirnya, berkurban yang sejati adalah ketika kita mampu melepaskan diri dari belenggu kepentingan pribadi, demi kebaikan bersama.
Happy Idul Adha. Selamat Berkurban. Selamat menikmati hari-hari yang lebih ikhlas dan lebih banyak syukur ❤️🙏
Ari Kinoysan Wulandari
