
Pernah suatu ketika di pagi pagi buta, saya sudah menulis surat protes untuk dua pihak yang versi saya tidak bekerja sesuai dengan aturan dan kesepakatan. Namanya saja surat protes, tentu bahasanya tak seindah puisi cintamu 😄😅
.
Begitu rampung, saya mengecek ulang, membaca cermat, menimbang, merenung, memikir ulang. Lalu bertanya pada diri saya: apa ini penting? Apa dampaknya?
.
Alih-alih berasa happy, saya pun ikut tidak nyaman. Saya pun memutuskan untuk mendelete seluruhnya dan melupakannya.
Saya akan bertanya dan mencari tahu sebabnya, lalu akan berembug solusinya.
.
Sekira wes jam normal orang kerja, saya baru bersapa sua kepada dua pihak ini. Dan cerita mereka mengalir lancar setelah permohonan maaf karena merasa segan mendahului lapor kesulitan di lapangan pada saya. Ya ampuuun… 😄😅
.
Akhirnya kami mengubah dan mengatur ulang beberapa hal yang ternyata “sulit” pada praktiknya. Lalu selesai. Sore hari ini, beberapa pekerjaan yang sempat tertunda itu, justru selesai lebih cepat sebelum deadline karena kami menemukan formatnya ketika berdiskusi pagi hari. Begitu mudah. Tanpa silang pendapat musuhan.
.
Saya merenungkan ulang; kalau surat protes saya tadi pagi terkirim; bisa jadi tidak secepat ini rampungnya. Dan yang pasti, bisa-bisa saya menambah musuh, kehilangan orang yang bisa membantu gaweyan tak terduga. Alhamdulillah, terhindar dari hal itu.
.
Jadi ya, saat kita ingin meluapkan marah; mungkin perlu menulis semua kemarahan kita —termasuk caci makinya, membaca ulang, kemudian menghapus seluruhnya. Melupakan kemarahan dan fokus pada mencari solusi. Kesulitan pun bisa lebih cepat diatasi. Dan yang pasti, tidak perlu habis energi untuk marah-marah.
Ari Kinoysan Wulandari
